Jadikan PSIM Objek Tesis, Mahasiswa Magister Ini Raih IPK Sempurna

Sleman – Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) mewisuda sebanyak 2.040 orang mahasiswanya, dari tingkat Diploma (D3), Sarjana (S1), Magister (S2), dan Doktyor (S3). Salah satu di antaranya adalah Sumarno, dari S2 Fakultas Ilmu Keolahragaan.

Sumarno menjadi salah satu wisudawan terbaik summa cumlaude dengan IPK sempurna 4.0. Pria yang saat ini berumur 24 tahun itu dalam tesisnya mengangkat tentang evaluasi manajemen PSIM Yogyakarta. Salah satu tim kebanggaan warga Kota Yogyakarta yang sudah lama tak mampu untuk promosi ke kasta tertinggi kompetisi Liga Indonesia.

Sumarno mengungkapkan kepada Tagar.id awalnya ingin meneliti tim sepak bola yang mengikuti kompetisi Liga 3. Namun karena saat 2018 Liga 3 di Daerah Istimewa Yogyakarta sedang terhenti, ia pun berpaling ke PSIM.

“Saya observasi. Ternyata sejak 2007 belum pernah promosi ke kasta kertinggi. Ada apa ini? Saya kaji, ternyata butuh evaluasi. Saya melakukan penelitian mengenai manajemen PSIM, keorganisasisan, bagaimana metode mereka, SOP (Standar operasional Prosedur) dan lainnya,” katanya pada Sabtu, 30 November 2019 sore.

Sumarno terus melakukan observasi, bertemu dengan beberapa pengurus tim. Akhirnya dari tesis itu memunculkan beberapa solusi. “Kalau menurut saya, (temuan ini) optimis bisa (menjadi solusi). Tapi kan setiap tim punya kebijakan masing-masing,” ucapnya.

Sumarno mengatakan tata kelola atau struktur organisasi PSIM saat ditelitinya masih rancu. Tidak jelas siapa CEO, Ketua, maupun investornya. Mengakibatkan tim berjuluk Laskar Mataram ini mengalami masalah pendanaan. Hingga akhirnya mereka mendapatkan sanksi dari Komite Disiplin (Komdis) Persatuan Sepak Bola Suluruh Indonesia (PSSI) berupa pengurangan 9 poin.

“Pendanaan kurang karena tata kelola belum begitu kuat. Perlu penguatan di marketing dan sponsor, kemudian kulitas kepelatihannya (lisensi pelatih). Wisma pemain saat itu juga kurang bagus. Tempat latihan berpindah-pindah. Kalau masalah tempat latihan atau infrastruktur ini sebenarnyahampir semua klub di Indonesia mengalami,” ucapnya.

Biaya Pendidikan Sumarno dari Hasil Tani

Sumarno sejak kecil sudah ditinggal oleh bapaknya. Ia dibesarkan oleh ibu dan kakaknya di Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur.

Sejak mengenyam pendidikan Sekolah Dasar (SD) ia dibiayai dari hasil tani yang dilakukan oleh ibu dan kakaknya. “Bapak saya meninggalkan tanah beberapa petak. Kalau musim hujan untuk tani jagung dan cabai. Hasil tani itu untuk biaya pendidikan saya,” katanya.

Selepas lulus sekolah, ia kemudian menempuh S1 Pendidikan Kepelatihan Olahraga di Universitas Negeri Surabaya. Pendidikan Sarjananya itu selesai pada 2016 silam, dengan hanya menghabiskan waktu selaman 3,5 tahun.  

Ia kemudian didorong oleh dosen dan kawan-kawannya untuk melanjutkan studi ke jenjang S2. Saat itu, Sumarno sempat mendaftar beasiswa LPDP. Sambil mengurus administrasi beasiswa, ia juga mendaftarkan diri di UNY dan dinyatakan diterima.

“LPDP pada tahap akhir dinyatakan tidak lolos. Padahal sudah dinyatakan dterima di S2 Ilmu Keolahragaan UNY. Kakak tanya keyakinan saya untuk studi ini. Saya jawab yakin, akhirnya biaya ditanggung oleh kakak,” katanya.  

Biaya kuliah Magister ini, masih tetap ditanggung oleh kakaknya dari hasil tani dan juga beberapa usaha seperti berjualan batako. Sumarno pun merasa bertanggung jawab, dan berusaha untuk bisa mendapatkan hasil yang baik.

“Orangtua sudah bersedia membiayai kuliah, tapi biaya hidup harus mencari. Saya punya lisensi wasit tingkat kabupaten kota, kebetulan Asprov PSSI DIY menyarankan mengikuti pertandingan sepak bola di Sleman. Kenapa Sleman, karena banyak pertandingan di sana,” katanya.

Pada periode September hingga Januari selama dua tahun terakhir ini ia rutin menjadi pemimpin pertandingan (wasit) tingkat Asprov PSSI Kabupaten Sleman. Upah yang didapatkan, disyukurinya bisa untuk biaya hidup di Yogyakarta.   

Meski sudah menyelesaikan kuliah dan diwisuda, Sumarno mengaku saat ini masih menerima pekerjaan untuk menjadi wasit. Setidaknya untuk menambah pengalaman dan membantu perekonomian keluarganya.

“Setelah wisuda ini memang ada teman yang menawarkan untuk mengajar di salah satu kampus swasta Surabaya. Tapi baru sebatas diskusi saja. Saya inginnya bekerja dulu supaya bisa membantu keluarga,” ucapnya.  

Rektor UNY, Sutrisna Wibawa mengatakan agar Sumarno dan para wisudawan untuk bersyukur. Sekaligus berterima kasih kepada semua orang yang selama ini berjasa, membantu, dan membiayai kuliah.

“Ingatlah, mendapatkan gelar baru yang disematkan oada nama bukan akhir segalanya. Welcome to the real world dan semoga bermanfaat untuk keluarga anda dan negara,” ucap Sutrisna.(rid)

 

Tags :

bm
Created by: Kakikukram

Post a comment