Menengok Memorabilia Letusan Merapi di Cangkringan

Selepas bencana erupsi Merapi akhir 2010 silam, dalam satu tahun berselang kehidupan masyarakat di sekitar lerengnya berangsur pulih. Mereka kembali melakukan aktivitasnya seperti bertani dan beternak.

Muncul pula berbagai objek wisata baru berkat keuletan warganya. Jeep Lava Tour misalnya yang menyajikan jelajah ke sisa atau bekas erupsi memakai Jeep. Di jalur banyak warga mengais rejeki dengan membuka warung makanan atau hanya sekedar tempat untuk minum kopi.

Selain itu ada pula beberapa lokasi yang dibuat memorabilia atau warga setempat menyebutnya museum alam. Berbagai benda maupun bukti-bukti keganasan lahar panas saat erupsi itupun menjadi harga jualnya.

Museum-museum tersebut, di antaranya di bekas rumah juru kunci Merapi, Mbah Maridjan di Kinahrejo. Kemudian, Sisa Hartaku, serta Omahku yang ketiganya berada di daerah bekas erupsi, Kawasan Rawan Bencana (KRB) III. "Di daerah Manggong, rencananya juga akan dibuat lagi," kata salah seorang tokoh dari Desa Kepuharjo, Cangkringan, Heri Suprapto. 

Dari mulai kendaraan pengangkut pengungsi yang sudah hancur ketika terjadinya erupsi. Kemudian, alat-alat rumah tangga. Kerangka hewan ternak, seperti sapi yang menjadi korban pun dapat ditemukan di museum alam tersebut. 

Semua benda-benda tersebut, bukannya dikumpulkan dan dimiliki oleh perseorangan saja. Namun, dari kesadaran guyubnya warga yang ada di sana. Untuk memulihkan, maupun meningkatkan perekonomiannya. "Beberapa benda milik masyarakat, dikumpulkan jadi satu. Ada juga gamelan, di Museum Omahku," kata Sumijo, warga di Dusun Petung, Desa Kepuharjo.   

Akan tetapi, lanjut Sumijo, tak hanya sebagai tempat untuk wisata yang dinikmati oleh pengunjung orang luar daerah saja museum-museum alam tersebut. Namun, juga sebagai pengingat bagi warganya sendiri.

Pengingat akan bagaimana bencana erupsi Merapi tersebut. Begitu besarnya korban, baik kerugian secara materi maupun nyawa. Belum lagi rasa trauma yang masih dirasakan.

Sebagai pelajaran ke depannya dalam menghadapi ancaman bencana ini. Paling tidak, mempunyai bekal mitigasi bencana. Baik ketika harus siap sewaktu-waktu untuk mengungsi, maupun apa saja yang harus diselamatkan.

Meski saat ini, mayoritas penduduk sudah direlokasi ke tempat yang lebih aman. Yaitu di KRB II Merapi. "Dulu rumah, harta benda, maupun tanaman di lahan, hancur semua. Jadi museum-museum alam seperti itu juga bisa digunakan untuk pengingat," ucapnya.

Tags :

bm
Created by: Kakikukram

Post a comment