Jahe Merapi, Minuman Hangat dari Kinahrejo

Wisata di lereng Merapi, tak hanya keindahan alamnya saja yang bisa dinikmati oleh para wisatawan. Ketika berkunjung ke sana, jangan sampai terlewatkan untuk mencoba hasil-hasil buminya.

Semisal saja produk minuman berupa jahe. Namanya Jahe Kinah Bali Rejo yang berarti Kinah Kembali Makmur. Label ini merupakan produks jahe kemasan khas lereng Merapi. Sebuah minuman kemasan yang berisi rempah-rempah hasil perkebunan warga setempat. 
Jahe sachet ini mulai diproduksi dan dipasarkan pada 2013 lalu. Setelah bencana besar erupsi Merapi yang material laharnya paling banyak mengarah ke Cangkringan pada akhir 2010 silam.

Produk itu kemudian dijual di tempat-tempat wisata di sana. Dari pemasukan di dunia pariwisata ini, diharap bisa berdampak pada semakin tumbuhnya perekonomian masyarakatnya.

"Kalau mulai dipasarkan baru 2013 lalu. Ada kalimat, Kinah Bali Rejo, ya biar Kinahrejo ini bisa kembali subur," kata Mursani, salah seorang pembuat jahe sachet.

Bahan baku jahe yang digunakan dibeli di pasar tradisional setempat. Kemudian baru dilakukan proses produksi di rumahnya, yang berada di Hunian Tetap (Huntap) Karangkendal, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman.

"Jahenya juga dari hasil tanaman di Cangkringan. Lebih memilih membeli di pasar saja, karena tidak sempat untuk menanamnya. Proses tanamnya yang lama, sekitar 9-12 bulan baru panen," katanya.
Ia sendiri membutuhkan sekitar 40 kilogram jahe untuk memenuhi kebutuhan produksi selama seminggu. Sebelum akhirnya bisa dinikmati konsumennya.

"Jahe digiling, direbus dicampur dengan rempah-rempah lainnya. Seperti gula aren, cengkeh, kapulogo, kayu manis. Kalau jualnya, selain di Petilasan (Mbah Maridjan, juru kunci Merapi) juga di tempat oleh-oleh. Di jadah tempe Mbah Carik, Kaliurang juga ada," ujarnya.

Satu sachetnya, dijual dengan harga Rp 15.000. Untuk yang dikemas memakai toples, sebesar Rp 50.000. "Kalau diminum langsung, segelasnya tiga ribu (rupiah)," katanya.

Tak hanya jahe saja, tapi ada banyak macam produknya. Diantaranya jahe kopi, dan gula jahe. "Beda dengan jahe-jahe di pasaran lainnya. Kalau ini, rasanya lebih keras, terasa jahe," kata salah satu pembelinya, Suparjo, 57, asal Tempel, Sleman.

Apalagi, jika dinikmati langsung di objek wisata Petilasan Mbah Maridjan. "Cocok dengan suasana dan suhu dinginnya. Jadi penghangat badan," ucapnya.

Tags :

bm
Created by: Kakikukram

Post a comment