Membuka Wawasan Kelautan di Museum Bahari

Kapal perang, peluru, radar navigasi kuno, dan alat kelengkapan lainnya, dapat dijumpai di Museum Bahari Yogyakarta. Datang ke tempat ini, pengunjung pun tak hanya mendapatkan tambahan wawasan mengenai dunia TNI AL saja.


Namun, juga dapat mengetahui keelokan nenek moyang dalam mempersatukan nusantara. Mengingatkan kembali bahwa Indonesia merupakan negara maritim.

“Jadi tujuan dari didirikannya museum ini, untuk membuka wawasan tentang Bahari. Terutama generasi muda Yogya. Agar mencintai Bahari, maritim, laut, tak hanya TNI-nya saja,” ungkap salah seorang pengelola museum di sana, Pembantu Letnan Dua (Pelda) Sukro beberapa waktu lalu.

Sebelum dijajah oleh Belanda, negara ini dikenal dengan kemaritimannya. Mempunyai armada yang besar dan kuat.

“Agar bisa mengubah mindset orang, bahwa dulu kita negara maritim. Meski memang membutuhkan waktu lama,” katanya.

Hilangnya sebutan negara maritim tersebut, semenjak pelayaran dibatasi Belanda. Masa penjajahan, masyarakat hanya diminta untuk mengembangkan pertaniannya. Menanam rempah-rempah misalnya.

“Dengan mencintai dunia kelautan, perlahan mengembalikan kejayaan kemaritiman. Masih banyak yang belum digali. Seperti wisata, ikan, rumput laut, gas bumi,” ujarnya.

Museum ini didirikan pada April 2009 lalu atas inisiatif Laksamana Muda (purn) Didik Purnomo. Berbagai koleksi pribadi maupun sumbangan dari TNI AL, dapat dilihat di museum yang terletak di Jalan RE Martadinata no 69, Wirobrajan, Yogyakarta ini.

Seperti berbagai jenis miniatur kapal perang, senjata meriam, bom laut, torpedo, radar navigasi, GPS, dan lainnya. Bahkan berbagai cinderamata dari seluruh dunia pula. “Sangat bagus untuk mengedukasi anak-anak,” kata salah seorang pengunjung.

Tags :

bm
Created by: Kakikukram

Post a comment