Desa Sukunan Sleman, Ubah Sampah Jadi Bernilai

Desa Wisata Sukunan, Banyuraden, Gamping, Sleman, berdiri sejak 2002-2003 silam. Awal dibukanya wisata khusus ini, secara tak sengaja karena sering ada kunjungan orang dari luar daerah.

“Karena banyak yang datang, jadi kami diminta (oleh dinas terkait) mengajukan untuk mendirikan sebuah desa wisata,” kata Suharto, Koordinator Pengelolaan Sampah beberapa waktu lalu.

Pada saat itu, masyarakat setempat hanya sekedar mengelola sampah limbah rumah tangganya. Ilmu yang didapatkan dari seorang dosen. “Bagaimana proses pengolahan sampah yang benar, itu saja,” katanya.

Pengelolaan sampah yang benar, menurutnya menguatamakan bagaimana prosesnya. Untuk ending-nya, itu nomor yang kedua, atau ketiga. “Prosesnya yang diutamakan. Kita lihat, lingkungan di sini seperti tidak terlalu bersih. Tapi prosesnya mengolah sampah harus yang benar,” katanya sambil menunjukkan lingkungan sekitar depan rumahnya.

Proses itu berupa memilah sampah organik dengan non organik. Tidak mengubur atau membakar sampah non organik. “Tidak boleh juga membuang sampah sembarangan,” tuturnya.

Adanya konsep pengelolaan sampah yang benar ini, dipelajari oleh pengunjung yang datang. Baik dari dalam negeri, maupun manca. “Bahkan sekarang sudah ada kunjungan rutin dari mahasiswa Tokyo dan Malaysia,” katanya.

Tak hanya bagaimana mengelola sampah yang benar, di objek wisata ini pengunjung juga dapat belajar bagaimana memanfaatkan sampah. Menggunakannya untuk dijadikan barang yang bisa bernilai lebih.

Seperti sisa bungkus minuman sachet, atau hanya sekedar botol minuman yang sudah tak terpakai. “Botol minuman dihias memakai kerak telur, bisa dihargai sebesar Rp 50 ribu. Kalau untuk sisa sachet minuman, dibuat dompet atau tas,” kata Endah Suwarni Setyawati, koordinator kerajinan.

Kerajinan yang dihasilkan itu juga bisa awet. Tergantung cara pemakaian dan perawatannya. “Meski hanya memakai sisa sachet minuman, tetap awet asal perawatannya benar,” ucapnya.

Selain itu, air hujan pun bisa dimanfaatkan secara maksimal. Yaitu menampungnya, kemudian disalurkan ke suatu kolam peresapan. “Jadi pemanfaatannya bisa maksimal, dan sumur-sumur warga sekarang tak cepat surut saat kemarau,” katanya.

Tags :

bm
Created by: Kakikukram

Post a comment